Pengelolaan Sampah

URBAN ENVIRONMENTAL MANAGEMENT COURSE

URBAN ENVIRONMENTAL MANAGEMENT COURSE

KNOWLEDGE CO-CREATION PROGRAM OF YOUNG LEADERS

Penerapan Model Ube dalam pembangunan perkotaan di Kota Ube berhasil mewujudkan pembangunan yang ramah lingkungan, lingkungan nyaman sebagai tempat tinggal. Semangat dan keikhlasan berbagai pihak (pihak bisnis, akademik, pemerintah, dan warga) dalam mewujudkan kelestarian lingkungan mendukung keberhasilan dari penerapan Model Ube. Tiap perusahaan memiliki perjanjian yang berbeda di kota Ube. Apabila ada permasalahan terkait perusahaan maka perusahaan akan diajak diskusi untuk mencari solusi dari masalah yang ada. Hal ini berbeda dengan di Indonesia, Perusahaan harus mamatuhi baku mutu yang telah ditetapkan Pemerintah dan jika terjadi pelanggaran, pemerintah akan mengajak berdiskusi namun cenderung memerintah untuk melakukan penyelesaian.

Pembangunan di Kota Ube, tidak hanya menitikberatkan pada perekonomian, namun mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan guna menciptakan lingkungan yang nyaman sebagai tempat tinggal dan warga sehat. Sesuai dengan motonya “Modal manusia adalah harta”. Apabila lingkungan nyaman maka investasi meningkat dan kesejahteraan meningkat.
Upaya pengendalian pencemaran/polusi harus memperhatikan keseimbangan ekosistem. Sebagai contoh yang telah terjadi di Kota Ube, Sumber daya ikan di perairan Ube berkurang karena kurangnya plankton dan tumbuhan sebagai akibat dari terlalu jernihnya air (karena air limbah diolah sangat bersih hingga nutrient yang dibutuhkan oleh tumbuhan kurang), Dari hal ini kita harus belajar bahwa suatu hal harus berada di garis seimbang, tidak boleh terlalu bersih dan juga sebaliknya tidak boleh terlalu banyak polusi.
Pemerintah Kota Ube tidak hanya fokus pada pengendalian polusi namun juga dalam pelestarian lingkungan hidup. Dalam mengatasi kondisi miskin nutrient di peraiaran maka peraturan tentang pembatasan polusi agak dilonggarkan dan dilakukan penanaman ganggang sebagai upaya konservasi lingkungan laut. Selain itu dilakukan pemberhentian pengolahan ir limbah di musim dingin supaya nutrient masuk ke laut sekaligus sebagai upaya hemat energi
Sosialisasi/promosi SDG’s tidak hanya disampaikan pada pemerintahan namun juga disampaikan pada UKM,dan anak, serta sektor lainnya.

Dengan demikialebih mudah untuk melibatkan berbagai sektor (akademi, masyarakat, swasta, pemerintah hingga pemerintah Desa) dalam mengupayakan pencapaian SDG’s. Keberadaan Dewan Lingkungan di Kota Ube sangat menarik, namun sepertinya agak sulit diterapkan di Indonesia dalam jangka waktu pendek. Akan tetapi model peran serta masyarakat, yaitu Federasi Sanitasi Lingkungan di wilayah sekolah memberikan edukasi pengelolaan sampah dan pelatihan pada volunteer (di RT) (dapat disebut trining for triner) Di mana volunteer yang bergerak dalam mengajak warga sekitar untuk memilah sampah dan mengawasi TPS. Paling menakjubkan, volunteer sangat bersemangat sehingga sangat menginspirasi. Kegiatan Federasi dibiayai oleh pemerintah dan volunteer juga mendapat insentive dari Pemerintah Daerah.Kegiatan Federasi/ komunitas ini memungkikan untuk didiaplikasi di Indonesia

Upaya sekolah percontohan Pendidikan lingkungan di Jepang juga ada di Indonesia, hanya saja di Indonesia belum masuk pada kurikulum, hanya di kegiatan ekstra. Insinerator dan recycle plaza tidak seperti tempat pengolahan sampah, sangat bersih dan rapi. Recycle plaza menginspirai, guna meningkatkan kegiatan 3R. Karena di Indonesia biasanya hanya ada unit kecil untuk 3R dan kurang populer. Recycle Plaza memilah sampah berdasarkan jenisnya, plastic, logam, kaleng, botol-botol kaca, serta barang lainnya yang rusak (yang dapat diperbaiki dijual kembali setelah diperbaiki).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *